Kamis, 03 Februari 2011 0 komentar

Improvisasi Nama


Semisal buku, film, lagu dihadirkan tanpa judul, apakah kau tetap ingin membacanya, menontonnya atau mendengarkannya? Apakah kau masih ingin mengunjunginya di rak Perpustakaan, di bangku Bioskop atau ditoko-toko kaset kesayanganmu?

Ya, giliran judul atau nama yang akan kita improve, sekarang. Akan kita jabarkan bersama. Akan kita bedah bareng-bareng. Akan kita telusuri ulang pemaknaannya ; sering kita sebut (memangil nama seseorang) namun kadang kabur, betapa berartinya itu.

Bayangkan dunia tanpa judul. Tanpa nama. Mungkin akan seperti gadis perawan tanpa busana, hanya menuju kejahiliahan kembali, bukan? Mungkin saja.

Tapi kau tetap saja tak mau mengenalkan nama pemberian Ibu dan Bapakmu itu, kepadaku.

Siapa sih namamu?
Mereka memanggilmu apa?
Bagaimana aku menyebutmu?


Plis dunk, ah!
Tentu aku tak akan sembarangan memanggilmu, kan?

Lalu jika aku panggil ‘Fulan’ seperti kisah-kisah pada jaman Salafi, apakah kau akan mencari sumber?
Lalu jika aku sebut ‘Bunga’ seperti korban-korban pemerkosaan atau pencabulan yang tak mau identitasnya diketahui orang bayak, apakah kau akan memperhatikan dan siap diajak ngobrol ngalor-ngidul? Entahlah…

Asal kau tau saja, aku tak pernah sepakat dengan kutipan William Shakespeare yang pernah sesumbar bahwa nama itu tidaklah penting (apakah arti sebuah nama?).
Menurutku nama itu ibarat judul buku yang akan dengan menarik didisplay dirak strategis toko buku, ibarat judul film yang akan terpampang pada iklan 21 dan ibarat judul lagu yang akan direquest pendengar setianya diradio dan televisi.



-Adji Nugroho (dB)-
Jogja, 09 Januari 2010
0 komentar

Seseorang menciptakan seni kisah cintanya sendiri
















Petikan Harpa mu telah mengenyahkan rasa hampa dirongga dada.
Senarnya kau petik dengan jemari yang lentik dan bola mata yang kadang melirik...

Gesekan Biola mu membingkis kado bahagia bagi si jiwa.
Tubuhnya kau sandar dilingkar leher lalu kau mulai mabuk alunannya...

Tiupan Clarinet mu melarungkan rasa penat, jauh dari cahaya yang terlalu menyengat.
Dia kau tiup, lalu menghembuskan ketenangan diatas rata-rata...

Oh, mohon sekali lagi mainkanlah.
Mainkan...mainkan musik klasikmu...

Yang melantun sedetik demi sedetik berdetak di jarum jam dinding jiwaku.

Yang turun serintik demi serintik di hujan gelora darahku.

Yang terkumpul sedikit demi sedikit di sela-sela rak-rak jantung hatiku.

Nada-nada yang terstem,
membawa sepoi,
membuai,
lalu kuucap aduhai....



-Adji Nugroho (dB)-
Yogyakarta, 2 Januari 2010
0 komentar

Bahasa mencari jejak (tak ada bahasa yang vulgar)

















Aku akan menjelma menjadi puisi
: Jika kata hendak dirangkai dalam bingkai intonasi dan ekspresi pembebas belenggu diri.

Aku akan mewujud menjadi lagu
: Jika nyanyian dapat melepas simpulan mati, tali pengikat penat.

Aku akan menjadi film
: Jika bosan memburu tanpa ampun dan jenuh bertengger memenuhi isi kepala.

Aku akan berubah menjadi lukisan
: Jika sketsa mengingatkan kenangan, sekaligus mengembalikan gambaran akan sebuah harmoni kehidupan.

Bukalah hatimu...
Bukalah seperti hendak membaca buku ;
selembar demi selembar, halaman demi halaman menelusur ke sebuah materi puisi, lagu, film dan lukisan yang mengukir bentuk eksistensimu.



Adji Nugroho (dB)
Jogja, 27 Desember 2009
0 komentar

Saya dan Anda | Ketika ditanya : Hai anak Adam, apa saja yang kau lakukan selama hidup?















Bila waktu tak kunjung tiba
Saya akan pulang berbekal bangga
Telah mengoreskan cita bersama Anda
Meskipun semua masih rencana


Bila waktu tak kunjung tiba
Ingatlah saya dengan cerita
Seorang pembiasa yang tak pernah terima
Raut sedih diwajah Anda


Bila waktu tak kunjung tiba
Tenangkan saya bersama do'a
Saya dan Anda tak luput dosa
Semasa masih tinggal didunia


Bila waktu tak kunjung tiba
Ya sudahlah, terima saja takdir yang ada
Bahwa larangan terhindar sekuatnya
Sedang perintah, sebagian sudah terlaksana


Adji Nugroho
Jogja, 18 Desember 2009

(Jangan takut, dunk! Ini kan cuma puisi. Puisi percobaan make stile sentuhan bahasa yang baku, hehe)
0 komentar

Gitar-gitar cinta menerjemahkan getar-getar hati

SEPERTI BERMAIN GITAR
aku ingin mengenalmu secara otodidak ;
tanpa guru, tanpa perintah yang susah aku mengerti

SEPERTI BERMAIN GITAR
aku ingin memetikmu ;
sekedar menghidupkan ruang-ruang sunyi tanpa bunyi









SEPERTI BERMAIN GITAR
aku ingin menghabiskan setiap langkah waktuku ;
memelukmu lebih dekat, lekat dan semakin erat

SEPERTI BERMAIN GITAR
aku ingin menyanyikan getaran hati ;
mengungkapkan bahasa-bahasa yang tak pernah ada dalam mata pelajaran


Adji Nugroho (dB)
Yogyakarta, 15 Desember 2009
0 komentar

Logika atau lo gila


Logikaku seperti tertabrak motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia lalu terpental jauh, jatuh berguling-guling bahkan terpelosok dibawah jurang. Tapi aneh, sungguh aneh. Tubuh logikaku masih utuh. Tidak ada luka berat, bahkan lecet sedikitpun (ntah, kenapa?? ). Tubuh logikaku masih bisa berdiri dengan tegaknya, seolah tak pernah terjadi peristiwa mengerikan tersebut.

Ia lalu membersihkan bajunya dari debu yang mengotorinya. Debu dan sampah dedaunan tepatnya. Sambil masih terheran, ia melihat bagian tubuhnya satu persatu. Dan benar ; tak ada masalah. Ia baik-baik saja. Ia lalu tersenyum, seolah dialah yang paling sakti diantara logika-logika yang lain.
Mungkin motor yang menabrak logikaku tadi sejenis moge (motor gede) atau memang motor yang dipersiapkan untuk balapan liar (bali) dini hari. Ia (logikaku) juga tidak terlalu jelas melihatnya. Begitu cepat, begitu singkat.

Mungkin jika dimintai laporan di Kantor Polisi, jawaban-jawaban logikaku tadi dianggap lemah dan tidak jelas. Susah untuk menemukan pelakunya. Sangat mungkin, logikaku hanya bisa bercerita seperti ini : “ Dini hari itu (Minggu, 22 November 2009), saya yang sedang gundah hatinya memilih untuk keluar rumah sekedar mencari angin liar. Ntah kenapa jalan yang telah lama saya telusuri itu belum juga mampu menghilangkan murung dan perasaan campur-aduk dalam hatiku. Lalu saya niatkan untuk menyusuri jalan yang lebih panjang lagi. Semakin panjang dan sangat panjang! Sampai tak ku sadari bahwa jalanan semakin lengang dan senyap tanpa sahut-sahutan lampu motor yang biasa ada di jalan. Saat itu jalanan menjadi sangat hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Dan situasi seperti itu semakin membuat dingin kulit tubuhku.

Saya akui bahwa malam itu, saya berjalan dengan melamun ; tak fokus melihat jalan. Kadang sedikit terpeleset pasir atau tersandung kerikil jalanan. Ya tersebab itu tadi, saya tak fokus melihat jalan.
Lalu seketika, saya mendengar suara motor dari arah kiri yang berbelok kearah kanan dengan kilatnya. Cepat. Singkat. Tanpa memberikan jeda atau menghelai nafas.

Lalu berhadapanlah kami satu sama lain. Saya sempat marah karena ketidaksopanannya mengendarai motor. Tapi sepertinya dia tak menggubris ekspresi ketidaksukaanku padanya. Ia semakin saja mengeber tuas gas. Saya tak tahu apa maksud sipengendara motor itu. Ia semakin menyencangkan laju motornya ke arahku. GUBRAAAAK!!!!....terjadilah peristiwa itu, Pak Polisi”


Nb : Anda tidak akan pernah salah seperti keliru menghitung angka-angka dalam soal matematika atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu guru yang belum Anda pelajari malam sebelumnya, jika menganggapku GILA! :)



Jogja, 28 November 2009
Sabtu, 29 Januari 2011 0 komentar

sesaat setelah kamu bertanya (?)


Mengapa?
: seperti tak bisa ditebak,
tabiat mudah jenuh, membuat kami harus sering-sering berfikir kreatif berkenala menjelajah mengakrabi alam.
Meskipun status telah diupdate, youtube tak lagi buffering, jetaudio telah memenuhi ruang dengar, chathing sama pacar yang jauh, sms dan handphone yang sering berdering, tv dan radio yang mengoceh, mainan game bola,
tapi jenuh tetap saja bertengger dikepala...

Apa?
: alam sebenarnya tak butuh untuk dikunjungi,
karena angin, air, langit, debu, batu, pasir, tanah merah, ilalang, rumput gajah, pohon asam sudah terlalu sibuk menyelesaikan tugasnya sebagai penghias semesta ini.

Kemana?
: dibanding dengan kami,
jenuh sering banget menziarahi kami.
Lalu, kali ini, pantai akan menjadi tempat melarung rasa itu.

Siapa?

: jalanan yang lengang, curam, menanjak, berkelok semacam papan surfing yang mengasikkan.
Hamparan sawah menghijaukan mata,
bentangan langit mengharu birukan persahabatan,
bukit tinggi berdiri angkuh layaknya jagoan pasar yang ditengah perjalanan tadi sering kami ditemui,
padang pasir pantai jelas asik buat bermain bola kami.

Pandang Terbentang
Berjalan menuju tebing sekedar melihat langit,
sesekali menundukkan pandangan menatap seseorang yang memancing ikan dengan gagangnya yang panjang dan dia yang berperahu ditengah gelombang laut.
Ditepian, anak-anak kecil juga mencari ikan, mandi membasahkan bajunya meski tak bisa berenang dan menciprat-cipratkan air asin itu. Sedang orang tuanya hanya mengamatin ya.

Ah, saat itu sepertinya langit dan laut saling bersaing beradu biru...

"berkali-kali kucoba menulis namamu diatas pasir pantai dengan patahan ranting kering, namun angin selalu deras membawa ombak: menghapusnya. lalu aku marah, kulempar dengan batu karang kearahnya, dia justru mengajakku bersahabat. aku tertarik dan mulai berlarian kecil di gigir pantai itu..."


Jogja, 29 Jan 2011
 
;