"Penasaran kerap menjerumuskan manusia pada malapetaka dan marabahaya", kata orang tua dahulu.
Misalanya aku yang sering penasaran pada jalanan di desa terpencil yang belum pernah kulewati; dengan kenekatan, kutrabas ruas jalanan itu.
Kutemukan ia bercabang, ku mulai terserang rasa bingung!
Akhirnya jiwa yang jadi kompas penunjuk arah..
Disana barangkali tak ada yang menyapamu.
Sepi.Hanya jati-jati rimbun yang menemani.
Sampai ku tegang, bahkan tukang tambal ban juga tak ada.
Ah, menjadilah lega ketika beberapa menit kemudian jalan besar ku tatap: Uhh, ternyata ada juga kehidupan! :D
***
Perjalanan diatas dua roda yang tak disangka-sangka arah dan tujuannya, barangkali itu menjadi cerita gila.
Namun seperti itulah ulah pekerja kreatif yang kehilangkan ide-idenya.
Sekali lagi, jangan kau tanya kemana dia kan pergi (?)
Baginya, suara jiwa harus terus dicari.
Sekalipun itu bersembunyi dilorong-lorong jalanan sunyi..
Dari perjalanan itu, berhentilah pada adzan yang telah dikumandangkan.
Bergegaslah kususur masjid yang tampak megah nan indah.
Lalu..ah, segar sekali tubuh ini tersentuh air wudhu..
Dan sujudlah yang khusyuk agar para syaitan menangis!
"Celaka aku, dulu aku tak mau sujud dan kini anak adam menikmati sujud pada Robb nya!", teriak syaitan menyesali kebodohan abadinya.
Hiraukanlah ia, dan nikmatilah rukuk dan sujudmu bersama jama'ah yang lain.
Setelah salam ke kanan dan ke kiri, berdo'alah yang dalam.
Kalau perlu menangislah: bahwa kesunyian adalah sesuatu yang sangat pedih.
Merenungi dosa-dosa sebagai penghambat kebahagiaan..lalu usaplah wajahmu yang sembab.
Kuakhiri perjalanan pulang itu dengan kepuasan
: hakikat kehidupan telah terkantongi.
Suara hatipun telah kujelajahi...
Jogja 23 Jan 2013,
Dari kumpulan status facebook
S’lalu kulihat wajah yang syahdu
Inginku cepat-cepat bertemu
Ramai kudengar suara yang merdu
Mungkin dia datang menjemput rindu
Oh, lama sekali waktu bertemu...
Seperti pemain sky menantikan datangnya salju
Padanya suhu dibuat sedingin es batu
Dan salju-salju bertebaran terbang bekeliaran...
Sungguh aku tak sesabar para Nabi
Nafsu mengajakku untuk buru-buru
Cinta,
Bunuhlah detik demi detik penantian kita!
....dia kini dikenal dengan nama Kyai
Slangkrah. Hidup dengan jengotnya yang panjang sedada, agak beruban,
sengaja dibiarkan tumbuh tak karuan....Kondisi seperti itu dimaksudkan
sebagai penyamaran beliau dari kejaran tentara Belanda waktu itu. Menceritakan
kepada generasi muda Jogja tentang Mujahid gagah berani (yang kelak
dijadikan pahlawan Indonesia): Pangeran Diponegoro.
Duh, Kyai Slangkrah...kini bukan hanya
jenggotmu yang berserakan...namun juga kuburmu di sisi barat
Jogja sana...Dulu, barangkali kalian (bersama Pangeran Diponegoro) kerap
bersembuyi, menyepi, berkontemplasi, merenungi dan mengatur strategi
perang di gua Slarong. Hanya untuk tegaknya kalimat Tauhid di bumi Jawa
ini....
Duhai, Kyai Slangkrah...barangkali (di akhirat sana) kau kecewa
sekali melihat generasi mudamu menjadi kacau seperti ini —yang
laki-laki mabuk-mabukan, yang perempuan gemar menebar aurat—
Perjuanganmu bersama si pangeran, tentu hendak mengatur kehidupan
masyarakat dengan syari'at agar lebih beradab....
nb: kisah nyata dengan beberapa tambahan cerita sebagai bunga-bunga kalimat :)
nb: kisah nyata dengan beberapa tambahan cerita sebagai bunga-bunga kalimat :)
Ramadhan malam ini,
kepadanya bunyi bersembunyi
menjelma menjadi sunyi
dan sepi...
Tadi gaduh,
anak-anak kecil sepulang tarawehan
lantas bergegas bermain petasan
dan
kembang api murahan.
Dan,
bapak-bapak,
sibuk tadarusan
dengan suara toa-nya yang super keras tak karuan.
Ibu-ibu memilih pulang kerumah,
menyiapkan makan saur untuk
esok pagi.
Kadang dapur juga jadi sangat gaduh,
karena suaminya acuh tak
acuh mendengar celotehan istrinya
—sedang mengeluh
harga sembako terus-terusan naik
menjelang lebaran.
Ah,
bulan ramadhan...
Rindu sekali rasanya
membersamaimu selalu...
Jogja, 6 Agustus 2012
Jogja, 6 Agustus 2012
Lihatlah, orang-orang berlalulalang berjalan mengejar baling-baling rotasi waktu.
Langkah-langkahnya agak terburu,
mencari ruang yg dituju di Rumah Sakit 'Enggal Waras'.
Tak lupa, mereka menenteng berbagai bawaan untuk sisakit: parcel
buah, snack, sekotak roti bantet, lauk-pauk dan tentu juga ada yang sengaja menyiapkan
sepucuk amplop berisi uang 30ribuan yg dilinting kecil untuk pasien nanti.
...sementara diwaktu yg sama, dokter dan suster berjalan
lebih cepat membelah rombongan itu dengan tempat tidur pasien yg sama dari arah yg
berlawanan,
"Permisi, kasih jalan, pasien ini sedang
kritis. Awas...awas...!!", kata suster..
Atmosfir ruangan otomatis berubah dramatis.
Lalu do'a-do'a terlantun dalam bibir yang gemetar, takut terjadi
sesuatu yang buruk pada pasien —yang tak lain adalah pak lurah mereka.
Glegekan roda tempat tidur teredengar seperti memukuli
lantai keramik, sedangkan botol infus terlihat tergoncang keras terkait pada besi penyangga...
"Argghh...aduh...aduh", pak lurah terus mengaduh
kesakitan.
"Tolong selamatkan ayah saya, dok! Dia belum menulis pembagian harta warisan pada kami...", pinta anak pertama sambil memegangi tangan si dokter.
"Ya, iya, kami akan berusaha keras
menyelamatkannya", dokter terlihat agak panik, takut pak lurah Balakeng
ini tewas dan dipermasalahkan kemudian hari...
*Disisi yang lain,
Pak lurah ini sebenarnya masih mendengar dengan baik dan paham apa yang dibicarakan anaknya pada sang dokter. Tapi pak lurah berpura-pura tak mendengar untuk selama-lamanya........
Pak lurah ini sebenarnya masih mendengar dengan baik dan paham apa yang dibicarakan anaknya pada sang dokter. Tapi pak lurah berpura-pura tak mendengar untuk selama-lamanya........
Hujan,
telah usai tugasmu
membasuh wajah malam...
Yang pasti,
malam bertambah dinggin (lagi)
Menulis tentangmu,
barangkali caraku
menyusun kalimat
manjadi api unggun
: menghangatkan hati
Dinggin.
Dingin sekali
malam ini.
Seorang pemuda lajang
dengan usia yang matang,
pada pukul 00.00 wib,
tak berbuat apa-apa untuk
gadis pujaannya.
Membayangpun, tak!
...setan-setan lalu mengodanya
dengan nomor hp si gadis:
"Kirim saja puisi untuknya"
Sent atau delete yah??
*Tuing!
low battre, segera hubungkan
charger Anda...
Jogja, 3 Mei 2012
Sepi. Alangkah ingin kubunuh dengan puisi. Namun caramu lain, kau memilih bernyayi dan menari seperti Rumi.
Kutinggal saja. Kuhampiri yang lain: mereka yang wajahnya berseri-seri sedang khusyuk melantunkan ayat-ayat suci.
Sepi. Bagi lelaki yang belum beristri, ini jelas menguras hati.
Sementara iblis berparas jelita, gencar sekali mengiming-imingi dengan
rok mini. Ah, berat sekali.
Seketika kuingat petuah pak Kiai "Bersabarlah, Allah pasti mendengar do'a-do'amu selama ini..."
Seketika kuingat petuah pak Kiai "Bersabarlah, Allah pasti mendengar do'a-do'amu selama ini..."
Sepi. Sesaat lamunanku mulai sesat. Kubayang dia yang jilbabnya terjuntai mengusap bumi. Lucu sekali..Segera saja kusadari, bayanganku terlalu tinggi. Suara hatiku berbisik
lirih: "Apa aku sudah menjadi laki-laki yang baik, yang pantas
mendapatkan perempuan yang baik pula??"
Sepi. Barangkali ini sebuah kondisi, agar kita mampu berkontemplasi,
merenungi hari-hari yang terlalui. Lalu, mulailah merancang, hidup baik
seperti apakah yang kelak akan kita jalani?
Sepi.
Jelas,
semua ini tak kan terjadi
Jelas,
semua ini tak kan terjadi
seperti ini
: jika kau ada di sisi...
: jika kau ada di sisi...
Jogja, 21 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact