Tampilkan postingan dengan label fiksi imajinatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi imajinatif. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Agustus 2011 0 komentar

bagi nope barumu, donk!


mungkinkah sebuah produk teknologi informasi canggih bisa musnah
dan kita akan kembali kepada peradaban yang lebih rendah lagi?
handphone, misalnya.
bagaimana bila tiba-tiba ia lenyap dari genggamanmu?
lenyap bukan karena dicopet,
apalagi kau gadai sebagai caramu membayar utang (?)

sebab,
percuma saja aku punya handphone jika kini kau tak lagi menghubungiku.
sekedar sms atau telpon saja sudah tak pernah!

lalu,
apa guna handphone bagiku?
apa guna blackbarry bagimu?
apa guna pulsa, jika tak pernah berkurang
: sisa pulsa anda saat ini Rp 48.000. Aktif 15/09/11, Tenggang 15/10/11.

apa guna nomor cantik (baru), jika kau rahasiakan padaku...dan kau nikmati sendiri (?)
apa guna tanggal digital dalam fitur hp-mu, jika kau tak mau tau bahwa setiap hari aku selalu merindukanmu.
apa guna jam dalam hp-mu, jika kau tak pernah mengerti bahwa setiap waktu aku selalu sibuk mencintaimu.
dan apa guna alarmnya jika kau tak paham
: sebenarnya kaulah pengingatku saat kurangkai kata-kata ini...


Jogja, 1 Agustus 2011
gambar
Sabtu, 09 Juli 2011 0 komentar

Pito; Belenggu Keberanian


taukah kau tentang malam yang panjang?
ketika bulan dan bintang ingin mengajakmu berbincang
dinginnya udara menusuki tulang belulang
keindahan langit membuatmu tercengang
lihatlah itu... sepasang kekasih saling berucap kata sayang!

hay, mengapa kamu bengong?
lihatlah itu sekali lagi, ini bukan negeri dongeng pengantar tidurmu
ini nyata dalam kesadaran penuh jiwamu, Pito.

kau selama ini hanya terkurung dalam dinding-dinding kastil yang tinggi.
pagar-pagar besi itu terlalu membelenggumu,
dan pintu-pintu besar itu selalu menutup matamu —mata batinmu juga.

Buta akan kehidupan sosial,
gagap akan interaksi sesama,
hilang komunikasi antar manusia selama ini.
mengapa tak cepat berontak, mendobrak dan teriak, Pito?

apakah kau belum sadar juga?
mana keberanian kala sekolah dulu?
mana benih 'pembangkang' yang dulu kau sombongkan padaku?
dulu lantang kau ingin menantang. dulu keras kau ingin melibas. dulu gahar kau ingin menghajar. 
lalu??

"bencong kau! haha...pake rok mini aja, deh!"
"jangan lupa pake lipstik juga. bawa bedak plus sponnya sana!"
"hai, benerin tu kutang loe! hahaha...."

Setelah puas mempercundangi, merekapun memutuskan pergi meninggalkan wajah kuyu si Pito. 
wajah yang ditertawakan teman-teman baiknya pada saat sekolah dulu.
wajah yang merunduk....
wajah yang sepertinya darah tak mengalir melewatinya....
HUFFT...gerutu si Pito.


Jogja, 9/7/2011
gambar
Kamis, 03 Februari 2011 0 komentar

Logika atau lo gila


Logikaku seperti tertabrak motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia lalu terpental jauh, jatuh berguling-guling bahkan terpelosok dibawah jurang. Tapi aneh, sungguh aneh. Tubuh logikaku masih utuh. Tidak ada luka berat, bahkan lecet sedikitpun (ntah, kenapa?? ). Tubuh logikaku masih bisa berdiri dengan tegaknya, seolah tak pernah terjadi peristiwa mengerikan tersebut.

Ia lalu membersihkan bajunya dari debu yang mengotorinya. Debu dan sampah dedaunan tepatnya. Sambil masih terheran, ia melihat bagian tubuhnya satu persatu. Dan benar ; tak ada masalah. Ia baik-baik saja. Ia lalu tersenyum, seolah dialah yang paling sakti diantara logika-logika yang lain.
Mungkin motor yang menabrak logikaku tadi sejenis moge (motor gede) atau memang motor yang dipersiapkan untuk balapan liar (bali) dini hari. Ia (logikaku) juga tidak terlalu jelas melihatnya. Begitu cepat, begitu singkat.

Mungkin jika dimintai laporan di Kantor Polisi, jawaban-jawaban logikaku tadi dianggap lemah dan tidak jelas. Susah untuk menemukan pelakunya. Sangat mungkin, logikaku hanya bisa bercerita seperti ini : “ Dini hari itu (Minggu, 22 November 2009), saya yang sedang gundah hatinya memilih untuk keluar rumah sekedar mencari angin liar. Ntah kenapa jalan yang telah lama saya telusuri itu belum juga mampu menghilangkan murung dan perasaan campur-aduk dalam hatiku. Lalu saya niatkan untuk menyusuri jalan yang lebih panjang lagi. Semakin panjang dan sangat panjang! Sampai tak ku sadari bahwa jalanan semakin lengang dan senyap tanpa sahut-sahutan lampu motor yang biasa ada di jalan. Saat itu jalanan menjadi sangat hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Dan situasi seperti itu semakin membuat dingin kulit tubuhku.

Saya akui bahwa malam itu, saya berjalan dengan melamun ; tak fokus melihat jalan. Kadang sedikit terpeleset pasir atau tersandung kerikil jalanan. Ya tersebab itu tadi, saya tak fokus melihat jalan.
Lalu seketika, saya mendengar suara motor dari arah kiri yang berbelok kearah kanan dengan kilatnya. Cepat. Singkat. Tanpa memberikan jeda atau menghelai nafas.

Lalu berhadapanlah kami satu sama lain. Saya sempat marah karena ketidaksopanannya mengendarai motor. Tapi sepertinya dia tak menggubris ekspresi ketidaksukaanku padanya. Ia semakin saja mengeber tuas gas. Saya tak tahu apa maksud sipengendara motor itu. Ia semakin menyencangkan laju motornya ke arahku. GUBRAAAAK!!!!....terjadilah peristiwa itu, Pak Polisi”


Nb : Anda tidak akan pernah salah seperti keliru menghitung angka-angka dalam soal matematika atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu guru yang belum Anda pelajari malam sebelumnya, jika menganggapku GILA! :)



Jogja, 28 November 2009
 
;