Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Januari 2011 0 komentar
Kehidupan itu akan menghidupkan jiwa, jika hidup ini menyadari akan sebuah kematian.
Kematian sesungguhnya tak lain adalah akhir dari kehidupan, namun bukan perjalanan abadi: jiwa.
Karena jiwa tak pernah bisa mati, walau kematian itu sendiri jiwa dari kehidupan ini.

...jika hati menyadari hal mati, dia akan merasa gigil: mengingat maksiat yang sangat pekat.
...jika nafsu memang tercipta kuat, maka hanya iman yang membuatnya bertahan.

kau senyum?
kau masih mengira ini canda?
kau tak sependapat?
kau ingin menyangkal?
ya..ya..ya..,
pulanglah dulu, mungkin kau capek.
lalu cuci muka,
: karena sebentar lagi, kau harus mencari hatimu yang hilang.
gambar
Sabtu, 11 Desember 2010 0 komentar

Abdi Pinokio

Bohong.
Tak pernah kusangka kau mengucap dusta dengan ayat suci sebagai penguat.
Kudengar bibirmu sering menyebut nama Tuhan, ternyata kau serupa setan. Tak ada beda dengan preman jalanan.
Senyummu lebar, bergegas menebar ranjau-ranjau yang melumpuhkan —melenakan kami, lalu terkekeh seperti perampok berhasil membobol uang sekarung di bank asing.
Kata-katamu terlalu manis, yang akhirnya bikin kami diabetes kepercayaan.

Sumpah serapah: Ingin kurobek topeng licikmu itu.
Kebohonganmu mengunung besar yang akan terus terlihat kami (setidaknya setiap pagi. Saat cuaca, udara, embun dan pikiran kami menjernih kembali, kami selalu ingat).
Aku dan kami tak akan insomnia, sampai ruh tiada.

Kelak, kau akan ditimbun hidup-hidup bersama kata-kata manis bohongmu; huruf per huruf, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf sampai nafasmu sesak —sesesak dada kami tersembur bisa tipu muslihatmu.
Kau abdi pem.bo.hong.


-Adji Nugroho-
Jogja, 10 Desember 2010
gambar
 
;