Jumat, 31 Agustus 2012 0 komentar

Kisah Kyai Slangkrah (true story)

....dia kini dikenal dengan nama Kyai Slangkrah. Hidup dengan jengotnya yang panjang sedada, agak beruban, sengaja dibiarkan tumbuh tak karuan....Kondisi seperti itu dimaksudkan sebagai penyamaran beliau dari kejaran tentara Belanda waktu itu. Menceritakan kepada generasi muda Jogja tentang Mujahid gagah berani (yang kelak dijadikan pahlawan Indonesia): Pangeran Diponegoro.

Duh, Kyai Slangkrah...kini bukan hanya jenggotmu yang berserakan...namun juga kuburmu di sisi barat Jogja sana...Dulu, barangkali kalian (bersama Pangeran Diponegoro) kerap bersembuyi, menyepi, berkontemplasi, merenungi dan mengatur strategi perang di gua Slarong. Hanya untuk tegaknya kalimat Tauhid di bumi Jawa ini....

Duhai, Kyai Slangkrah...barangkali (di akhirat sana) kau kecewa sekali melihat generasi mudamu menjadi kacau seperti ini —yang laki-laki mabuk-mabukan, yang perempuan gemar menebar aurat— Perjuanganmu bersama si pangeran, tentu hendak mengatur kehidupan masyarakat dengan syari'at agar lebih beradab.... 

nb: kisah nyata dengan beberapa tambahan cerita sebagai bunga-bunga kalimat :) 
Selasa, 07 Agustus 2012 0 komentar

Fragmen Ramadhan




Ramadhan malam ini,
kepadanya bunyi bersembunyi
menjelma menjadi sunyi
dan sepi...

Tadi gaduh,
anak-anak kecil sepulang tarawehan 
lantas bergegas bermain petasan 
dan kembang api murahan.

Dan,
bapak-bapak, 
sibuk tadarusan 
dengan suara toa-nya yang super keras tak karuan.

Ibu-ibu memilih pulang kerumah,
menyiapkan makan saur untuk esok pagi.
Kadang dapur juga jadi sangat gaduh,
karena suaminya acuh tak acuh mendengar celotehan istrinya 
—sedang mengeluh 
harga sembako terus-terusan naik 
menjelang lebaran.

Ah,
bulan ramadhan...
Rindu sekali rasanya
membersamaimu selalu...

Jogja, 6 Agustus 2012
Jumat, 29 Juni 2012 0 komentar

Pragmatis: Harta atau Nyawa?



Lihatlah, orang-orang berlalulalang berjalan mengejar baling-baling rotasi waktu.
Langkah-langkahnya agak terburu, 
mencari ruang yg dituju di Rumah Sakit 'Enggal Waras'.
Tak lupa, mereka menenteng berbagai bawaan untuk sisakit: parcel buah, snack, sekotak roti bantet, lauk-pauk dan tentu juga ada yang sengaja menyiapkan sepucuk amplop berisi uang 30ribuan yg dilinting kecil untuk pasien nanti.

...sementara diwaktu yg sama, dokter dan suster berjalan lebih cepat membelah rombongan itu dengan tempat tidur pasien yg sama dari arah yg berlawanan,
"Permisi, kasih jalan, pasien ini sedang kritis. Awas...awas...!!", kata suster..
Atmosfir ruangan otomatis berubah dramatis.
Lalu do'a-do'a terlantun dalam bibir yang gemetar, takut terjadi sesuatu yang buruk pada pasien —yang tak lain adalah pak lurah mereka.

Glegekan roda tempat tidur teredengar seperti memukuli lantai keramik, sedangkan botol infus terlihat tergoncang keras terkait pada besi penyangga...
"Argghh...aduh...aduh", pak lurah terus mengaduh kesakitan.
"Tolong selamatkan ayah saya, dok! Dia belum menulis pembagian harta warisan pada kami...", pinta anak pertama sambil memegangi tangan si dokter.
"Ya, iya, kami akan berusaha keras menyelamatkannya", dokter terlihat agak panik, takut pak lurah Balakeng ini tewas dan dipermasalahkan kemudian hari...


*Disisi yang lain,
Pak lurah ini sebenarnya masih mendengar dengan baik dan paham apa yang dibicarakan anaknya pada sang dokter. Tapi pak lurah berpura-pura tak mendengar untuk selama-lamanya........


Selasa, 29 Mei 2012 0 komentar

SMS


Hujan,
telah usai tugasmu
membasuh wajah malam...

Yang pasti,
malam bertambah dinggin (lagi)

Menulis tentangmu,
barangkali caraku
menyusun kalimat 
manjadi api unggun
: menghangatkan hati

Dinggin.
Dingin sekali
malam ini.
Seorang pemuda lajang
dengan usia yang matang,
pada pukul 00.00 wib,
tak berbuat apa-apa untuk
gadis pujaannya.

Membayangpun, tak!

...setan-setan lalu mengodanya 
dengan nomor hp si gadis:
"Kirim saja puisi untuknya"

Sent atau delete yah??

*Tuing!
low battre, segera hubungkan
charger Anda...

Jogja, 3 Mei 2012
Minggu, 27 Mei 2012 0 komentar

Lelaki Dalam Sepi



Sepi. Alangkah ingin kubunuh dengan puisi. Namun caramu lain, kau memilih bernyayi dan menari seperti Rumi.
Kutinggal saja. Kuhampiri yang lain: mereka yang wajahnya berseri-seri sedang khusyuk melantunkan ayat-ayat suci.

Sepi. Bagi lelaki yang belum beristri, ini jelas menguras hati. Sementara iblis berparas jelita, gencar sekali mengiming-imingi dengan rok mini. Ah, berat sekali.
Seketika kuingat petuah pak Kiai "Bersabarlah, Allah pasti mendengar do'a-do'amu selama ini..."

Sepi. Sesaat lamunanku mulai sesat. Kubayang dia yang jilbabnya terjuntai mengusap bumi. Lucu sekali..Segera saja kusadari, bayanganku terlalu tinggi. Suara hatiku berbisik lirih: "Apa aku sudah menjadi laki-laki yang baik, yang pantas mendapatkan perempuan yang baik pula??"

Sepi. Barangkali ini sebuah kondisi, agar kita mampu berkontemplasi, merenungi hari-hari yang terlalui. Lalu, mulailah merancang, hidup baik seperti apakah yang kelak akan kita jalani?

Sepi.
Jelas,
semua ini tak kan terjadi 
seperti ini
: jika kau ada di sisi...

Jogja, 21 Mei 2012
Jumat, 06 April 2012 0 komentar

sedang rindukah, aku?


rindu yang menggebu
barangkali adalah luapan energi cinta
yang tak sanggup lagi kau bendung
dengan jutaan kantong-kantong pasir
kesabaran manusiawi...

atau,
bisa jadi serupa kicau burung kenari
dimana kau selalu dibuat keasikan merungunya...


ah, 
sedang rindukah aku padamu?
makanya buruan ketemu!
kamu malu ya...?
entar layu, lho...?!

***

bila rindu terus mencumbu
akankah kau buat bidadari
kan cemburu?
: wajahnya tertutup kelambu—menyembunyikan tangisan sendu.

boleh jadi,
nyanyian hujan yang merdu
seketika jadi ratapan pilu
itu berarti; rindumu tak lagi lugu!


sebab rindumu t'lah tercampuri hawa nafsu
berubahnya sibiru jadi abu-abu
dan perasaanmu,
janganlah mudah kena tipu...
Minggu, 18 Maret 2012 0 komentar

Rehat di Masjid


Rehat dimasjid,
duduk bersila
beralaskan karpet hijau tua—yang tampak bersih dan suci.

Pilar-pilarnya jadi sandaran bahu,
menghela nafas panjang,
manusia pemikul beratnya dunia.

Masyaallah...
Sunguh benar permintaan Nabi Saw pada Bilal,
yang suara adzannya lantang menembus cakrawala langit
: "Istirahatkan kami dengan sholat"

Ya,
berhentilah sejenak untuk 'rehat' dalam sholat, wahai sobat.
Tak selamanya dunia ini kita genggam erat.
Dan akhirat,
tempat semua akan mendarat...



*Masjid Asy-Syifa', RS Sardjito, Jogja

 
;