Minggu, 20 Februari 2011 0 komentar

Aku Ingin


Aku ingin masa depanku cerah, 
seperti wajah ini berseri ketika dulu dinyatakan lulus sekolah.

Aku ingin masa tuaku bahagia,
seperti ketika aku dan teman-teman merayakan wisuda sarjana.

Aku ingin matiku dalam keadaan tenang,
seperti ketika sebuah pekerjaan yang bergengsi telah kupegang.

Jogja, 20 Febuari 2011 00:39 
gambar
Minggu, 06 Februari 2011 0 komentar

Hati-hati dengan Masa Depan!


 
Bukankah kita sering tergoda oleh masa depan?
Kita pikir masa depan itu seperti taman bunga yang sedang berkembang indah.
Tanpa darah, tanpa nanah, tanpa  bebenah bisa mudah memetiknya.

Bukankah itu semua hanya mimpi disiang hari?
Dengan berdiam diri, jalur kesuksesan itu tak akan pernah kita lewati. 
Dengan tergesa bisa salah arah: gagal!
Yang lebih menyakitkan lagi: kita telah menujunya namun tak tahu harus berbuat apa untuk mengantongi sukses.

Hati-hatilah menggapai masadepanmu!
Aku yakin kita semua bisa! :)
0 komentar

Dinasti Imaji



Apakah benar aku hanya rajin membangun image 'wah' pada dirimu, sayang?
Sehingga aku terlalu sibuk sendiri menata hati, berdiam diri lalu terbelenggu?
Tolonglah sayang! Cinta ini telah memanggil dan aku mengigil ketakuatan dibuatnya.
Seperti  kena gendam, aku terjerat rantai-rantai kesemuan belaka.

Senyummu terus terkembang,
karena selalu kusiram dengan angan-angan ilusi-halusinasi.
Matamu melukis apik langit yang rintik,
sedang mataku menjadi bias.

Mohon robohkan!
Aku tak berdaya, 
hancurkan angan-angan kosong ini, sayang!


Jogja, 2010
2 komentar

Bidadari Milik Umum


Kadang, ingin sekali kutatap wajahmu sampai benar-benar aku merasa penuh. Akan kuperhatikan dengan detail apa yang membuatku terkagum-kagum padamu: mulai dari ujung rambut kepala hingga ke ujung kuku kakimu.

 
Ya, kau bagai lautan; semakin kupandang, semakin menjadi-jadi rasa penasaran ini. Sungguh, perempuan adalah permata dunia yang kilaunya lebih terang daripada intan berlian atau bintang-bintang di langit sekalipun.

 
Matamu, bibirmu, senyummu membuatku tak bisa tidur. Selalu terbayang wajah cantikmu. Apa sebenarnya ini? 
Setelah kekaguman pada wajahmu menjenuh, seakan ingin kutelusuri hal-hal lain yang tetap saja membuatkau terpukau. Tutur kata yang keluar dari bibirmu, caramu saat melangkah atau apa saja yang menjadi kebiasaanmu. Kalau perlu mataku tak boleh berkedip sekalipun untuk memandangmu. 

 
Kau juga mengenakan pakaian yang sejujurnya memaksaku untuk tak boleh terlewatkan menyaksikannya. Pakaian itu begitu ketatnya, seolah bentuk badanmu terlihat semua. Namun kau tak merasa risih atau malu mengenakannya, sungguh mengherankan bukan? Pemandangan yang tarifnya gratis, hehe...

 
Keadaan pergaulan memang telah terjungkilbalik. Perempuan yang mengenakan pakaian tertutup dianggap norak atau ketinggalan mode. Justru yang terbuka-terbuka itulah yang 'kudu' ditiru.
 

Yang lebih mengherankan lagi, saat cuaca begitu dingin atau panasnya, pakaian itu tetap saja kau kenakan tanpa diambah jaket atau rompi yang akan melindungi badanmu dari cuaca itu. Hemm....
 
Tapi aku tak bisa melakukan untuk 'menikmati' semua itu. Agama mengajariku untuk menundukkan mata untuk hal-hal seperti itu. Aku takut karena-sebab birahi mata bisa menjerumuskanku kedalam jalan buntu kehidupanku.

 
Aku bukannya seorang penakut yang hanya memandang saja sudah tidak berani. Atau seorang pengecut yang hanya berani mencuri-curi pandang. Sungguh aku berusaha memegang teguh ajaran yang telah dikenalkan orang tuaku sejak kecil ini
Islam.


Kenapa wajahmu yang cantik tak kau tutupi dengan jilbab? Kenapa tubuhmu yang sexy, selalu kau baluti dengan pakaian yang terbuka? Itukah caramu untuk membuktikan bahwa kamulah yang paling cantik atau sexy diantara yang lain? Bukankah itu sebuah kebodohan, yang hanya 'mengiurkan' mata mata yang selalu memupuk nafsu birahi semata? Ah, kamunya aja yang 'seneng' mempertontonkan saja. Kata orang sih cari perhatian.

Kadang kamu tak merasa betapa malunya anggota tubuhmu yang sengaja kau buka atau kau pertontonkan itu, kan?! Mungkin dia menangis, marah, jengkel, muak, benci karena kau perlakukan seperti itu. 

 
Bukan begitu caranya, cantik! Hiasilah paras wajahmu dengan jilbab. Aku yakin kecantikkanmu tak akan luntur hanya karena pakai jilbab. Malah sebaliknya, kau tampak tambah cantik kok pakai jilbab itu!

 
Lalu pakailah pakaian yang menutupi aurotmu. Jangan kenakan pakaian yang hanya menghadirkan niat-niatan nakal kaum lelaki
kasihan para cowok itu, kerena hanya bisa menonton saja!
Kalau sudah pakai jilbab dan pakai pakaian yang tak kesempitan itu, kamu seperti bidadari nyata, lho! ;D


Kota Jogja, 2008
Kamis, 03 Februari 2011 0 komentar

Bila Rindu Ingin Mengadu


Bagaimana bila aku rindu namun engkau telah tiada?

Tentu aku akan sulit mencari.

Bagaimana bila ingin kutunjukkan rasa bahagia ini, tapi engkau telah tak dapat merasa?

Betapa hilangnya jiwa ini.

: Hai sukma, tinggallah sejenak diraga kami.

Kami masih ingin mencinta, walau takharus dengan mencium.

Karena rindu yang tertuntaskan saat melihat dia baik-baik saja, bisa jadi lebih dari ciuman itu sendiri.

Bersama mengkhawatirkan saat petir ternyata ganas menyambar,menganggap tak layak menghabiskan tawa saat tak ada kehadiran yang lainnya, ataukah sendiri menyimpan duka sehingga tak kau beri air mata padaku (padamu), lalu rebah menyembunyikan isak tangis.

.....ah, sesungguhnya ayah juga sahabat, ibu juga dan engkaupun yang membaca juga sama saja.



Adji Nugroho (dB)

Jogja, 10 Agustus 2010

0 komentar

Hay, kau kira cinta itu apa?!


Hay, kau kira cinta itu apa?
Setelah dalam perjuangan menaklukkannya: berkepayahan merangkai puisi, berdarah-darah belajar gitar untuk dinyanyikan dihadapannya, bersolek menata rambut yang melanggar kodrat—disisir belah tengah, padahal dari kecil, Ibunya membiasakan menyisir ke kanan, menghadiahi setangkai bunga mawar hasil curian tanaman tetangga saat ulang tahunnya atau membelikannya coklat merk dagang 'ngutang' kawan, atau segala tindakan keromantisan yang justru memuakkan. Toh, akhirnya kau mendapatkannya.
Ku tahu perasaanmu tak sedahsyat saat proses mendekatinya dulu—anak muda sering menyebutnya pdkt. Yang membuatnya tak bisa tidur karena rayuan via sms atau bahkan obrolan dalam hpmu - hpnya yang berdering hampir tiap malam.
Lalu setelah kau berhasil mendapatkannya, kupikir dia hanya jadi pelengkap bara nafsumu; kau rangkuli, kau peluki, kau cumbui bahkan kau tiduri berkali-kali.
Tak ada lagi puisi, lagu, mawar ataupun coklat seperti dulu.
Tak ada pula sikap ksatria disana.
Lalu waktu menjenuhkanmu, lagi-lagi kau ingin ganti.
Hay, kau kira cinta itu apa!




Kang Ajik
Jogja, 20 Juli 2010
0 komentar

Usia Usai


Saat usia usai: langkah bahkan terus berjalan. Bukan terhenti seperti saat turunnya palang rambu-rambu pertanda kereta api sedang melaju.
Bukan! Langkah akan terus mencari titik terang dari pekatnya kubur, kawan.
Lalu dengarlah ruh yang bergemuruh mengeluh sedih karena jalannya tersesat.
Lihatlah...tubuhnya gontai, lunglai tersayat pedih.

Dan kau masih berjalan bersiul menepis ketakutan yang menggigil, keringatmu menderas, gigimu bergemelutuk, pandanganmu tak fokus, jiwamu bergetar padahal tak pernah ada yang mengertak, kawan!
Sampai nafasmu tercengang: "Hah!, itu bukankah temanku?"
*te.man.ku—jiwa pada diri lain yang selalu bersama, bahkan kadang lebih diperhatikan agar sejati.

Lalu kau hanya diam, karena kau tau: sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolongnya.
Ya...pekerjaan yang sering kau usahakan untuknya, saat usia masih setia dulu.

Manusia kini merapat untuk kembali
Namun jiwa ini melayang jauh meninggi
Manusia nanti terdiam karna tersadar
Terbayang langkahnya, harinya telah berlalu



Usia telah usai...
Usaha tiada guna...


Kang Ajik
Jogja, 12-Jun-10
 
;