Sabtu, 23 Oktober 2010 0 komentar

Rahasia Sinar (Dasar, jahiliah!)



Terang kukira nyata
Jahiliah; kuanggap semua sebagai hidup
Kilau terlihat utuh
Kuyakin hadirmu akan menemaniku. Dasar, jahiliah!

Tubuhku tak bisa meraba
Segala rasa meracuniku
Langkahku tak dapat mendekat
Hanya paham dalam batinku. Dasar, jahiliah!


(Kumpulan puisi lama tahun 2006)
0 komentar

Pelangi Hati

Pelangi oh pelangi yang terbentang
Membuka gerbang-gerbang pintu langit
Sepertinya sang peri hendak bermain
Membuang jenuh cerita khayalan di khayangan

Pelangi oh pelangi di sore ini
Ketika cahaya mulai lembut bersinar, ketika hujan mulai surut lalu usai...
Warnamu semakin cerah membinar
Seperti lagu yang diiramakan anak-anak lucu itu: Merah-kuning-hijau dilangit yang biru...

Ya, pelangi bagaikan isi hati
Berwarna-warni melengkapi kehidupan ini
Bukan hanya satu warna tunggal
Banyak pilihan yang bisa dipandang


(Kumpulan puisi lama tahun 2006)
gambar disini
0 komentar

Duri Cantikmu


Kembang merah yang telah merekahTelah muncul banyak duri siap menusuk telunjuk jari
Ingin jika harus kupetik
Hati-hati, "bisa 'merobek kulit'lalu mengiris hati —perih!", kata senior para pecinta.

Duripun tajam sulit terkandas
Tampaknya harus, musti mencoba!
Pabila duri jatuh kebumi
Oh, bunga pesona menghias hari

Kan kukejar-kejar cinta melayang
Tapi tak terburu harus sekarang
Mungkin sajakah pernah terbayang?
Sebuah sayang yang hampir terbuang

(Kumpulan puisi lama tahun 2006)
gambar disini
Sabtu, 19 Desember 2009 0 komentar

Jahil(iyah)


Kadang-kandang aku ingin mendapatimu sesengukan dikamar, karena ketiadaanku ketika kau sendirian saja...
Suatu saat aku ingin melihatmu meringkuk dalam kamar, resah memikirkanku yang belum juga pulang...
Kapan-kapan aku ingin membuat jantungmu berdetak tak stabil, karena menebak-nebak bingkisan apa yang akan aku bawa.
Hoho, dalam waktu yang tak terduga, entah kapan, aku ingin mendengarmu menjerit tinggi kegirangan dengan nafas yang terengah-engah dan tingkah yang terkesan aneh.


-dB-
19 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009 0 komentar

Bawah Sadarku Atasmu

Jika aku tiba-tiba merindui ekspresi wajahmu saat ngambek karena aku lupa membawakan permen coklat kesukaanmu,
akan kutatap rerumputan disamping rumahku.
Ekspresi itu seakan tumbuh dengan liarnya dipikiranku,
menjalar kesetiap sudutnya, membawaku ke kondisi alpha...
Kau ngambek, tapi masih mau memboncengku pulang.

Jika aku sontak kangen tingkah polah manja kekanak-kanakanmu karena kugoda model poni rambut barumu,
akan kuhitung jumlah rasi bintang yang beredar sekitar jam 20.10 wib.
Tingkah polah manja kekanak-kanakanmu mengerlipkan kamar setiap lampu tidur kumatikan,
kau semakin menjadi jika kurapikan ponimu yang tersapu laju angin, mengacaukan sistem detak jantingku...
Kau manja, kamu emang manja sekali.

Tapi disaat kau membuatku bete lantaran jengkel harus menunggumu kelamaan dandan karena bingung memilih baju dan asesoris yang pas dipakai jalan sekedar keliling kota saja;
AKU AKAN MENGINGAT RUMPUT DAN BINTANG SEBAGAI BEL PENGINGAT EKSPRESI DAN TINGKAH POLAH MANJAMU YANG SELALU KURINDU DAN KUKANGENIN.

Bel itu akan berbunyi mengingatkan, seperti waktu istirahat sekolah dulu.
Berbarengan dengan itu, terbitlah peresaan terang benderang dan mengenyahkan rasa bt dan jengkel yang sempat bersemayam atasmu.

-dB-
0 komentar

Keberadaanku


Keberadaanku menerjemahkan sandi-sandi yang tak kau mengerti.
Padahal sandi-sandi itulah yang membongkar misteri kebahagiaan yang hakiki.
Kau berkeras menerjemahkan sendiri, namun jalan kuldesak selalu mendesakmu.

Keberadaanku mengartikan bahasa-bahasa yang tak kau pahami.
Padahal bahasa-bahasa itulah yang melepasmu dari belenggu kepayahan.
Kau terus memaksa mengartikannya sendiri, namun gang buntu yang terus kau tuju.

Aku terangkai dari sandi-sandi yang rumit.
Akupun tersusun dari bahasa-bahasa yang sulit.

Walau begitu, tak ada sandi yang terangkai tanpa petualang.
Dan tak ada bahasa yang tersusun tanpa komunikasi.

Berbahagia dan bebaskanlah hidupmu.
Rupanya sandi dan bahasa tadi telah bersedia mengantarmu sampai tujuan.

Apalagi yang kau pikirkan?
Cepatlah mengangguk, karena keberadaanku tak lama disini.

-dB-
Kamis, 03 Desember 2009 2 komentar

Eksotis Eksis


Kawan, cerita kali ini masih serupa menyoal keeksotikan malam.
Malam kali ini akan aku tafsirkan sejatinya, bukan kiasan seperti sebelum-belumnya.
Malam yang masih sepi, sunyi dan dingin.

Kenapa akhir-akhir ini aku gemar menulis malam?
Bukankah ini hal yang lumrah? Tak ada yang istimewa.
Setiap insan mengenal dan selalu melaluinya. Semua telah sepakat, walau tak pernah ada jejak pendapat seperti sebelum pelepasan Timor Timur jaman BJ Habibie dulu ; malam tak lain ialah pergantian waktu dari pagi, siang dan selanjutnya malam itu sendiri.
Dimana letak keeksotisannya?

Mungkin pertanyaan itu yang berteriak-teriak dibenak kawan semua.
Okey, ayo kita bedah bersama-sama.

Setelah direnungkan lebih jauh, malam yang gelap itu seakan mewujud menjadi cermin, lho.
Yups, tepatnya sebuah benggala kehidupan. Semoga saja saya tidak melebih-lebihkan istilah ini.

Mengapa malam disebut sebagai sebuah cermin?
Bukankan sangat berbeda?
Begini kawan,
bukankah dari cermin, kita akan mengetahui kondisi raga kita?

Jika besok Senin, kau dipanggil atasanmu untuk menghadap, tentu kau akan bersolek parlente didepan sebuah cermin. Membolak-balikkan badan kekiri dan kekanan. Berputar-putar bak permainan gangsing.
Merapikan kemejamu. Membenahi kerahnya atau memastikan kalau pangkal kemeja telah dimasukkan kedalam celana kainmu dengan baik.
Ya, dari cermin kita akan berubah lalu berbeda....

Kembali ke malam.
Malam ternyata juga mempunyai sifat yang sama seperti cermin ; merubah!

Saat hening tak bergeming,
saat sepi menjadi saksi,
saat senyap dan sunyi lepas dari adegan segala bentuk bunyi, muncullah perenungan akan kontemplasi hidup dari malam.
Kita seperti dihadapkan cermin raksasa atau benggala yang akan 'memperlihatkan' tingkah kita.
Malam mengantarkan kita pada perenungan, tanpa pernah menjemputnya kembali. Mengajak kita untuk merefleksi makna kehidupan yang hampir kita lupakan. Namun malam tetap menolak lupa!
Lalu setelah kita tak tau jalan untuk pulang, malam tentu segera melelapkan kita.

Maka, dari situlah saya pribadi menyukai malam.
Malam yang (telah) merubah hidup ini dengan sukses.
Bagiku malam itu eksotis.

Bagimu?
Tentu aku tak tau...
Kasih tau dunk....he.



-dB-
Yogyakarta | 3 Desember 2009
 
;