Rabu, 11 November 2009 0 komentar

Oh Jakarta, dengarkanlah (smsku)!


Aku bukan pembatik, yang kadang malamnya dihabiskan untuk bercengkrama dengan malam.
Aku juga bukan petani, yang setiap siang harus rajin menyiangi sawah ladangnya.


Aku terjaga di pagi buta,

menerjang ganas disulut siang,

menghelai lembut aroma sore,

dan dibungkam lelap nyanyian malam.

Oh Jakarta, dengarkanlah!

(Bermula sekedar sms, Jakarta 10 November 2009)
***

pic
Senin, 19 Oktober 2009 0 komentar

Bencana, ku tak tanya dimana?

Bahakan tawa hanya mengantarkan kepada sedunan tangis.
Teriknya siang dapat mengelupasi kulit.
Sedangkan gigilnya malam bisa membekukan jiwa.
Oh, hembusan angin jangan kau terlalu kuat.
Gemuruh petir terasa sungguh hebat.
Turun hujan, kupikir sudah terlalu lebat.
***
Banyak hati yang tersayat.
Mereka menginginkan pergi jauh--minggat.
Namun kemana?
Kami tak mampu menghindar!
***
Mungkin kami tak lagi ingat akan pesan di Ayat.
Mungkin khianat telah merakyat.

Dunia, kuharap kau baik-baik saja.
Kuinginkan engkau pijakan yang akan selamat...
***
Pohon kembali berbuah, dan ternak banyak beranak.
Cinta kembali menyapa, sedang kasih bertemu, tak bisa tersisih.

Untuk itu, kami akan berdo'a, memohon, mengakrabi, mengiati dan khusuk menyembah padaMu.
Untuk itu, kami akan menjauhi hal yang Kau benci, Kau jijiki, Kau maki dan Kau laknat.

Ya Rabb, sang Tuhan.


Gambar diambil disini
Kamis, 10 September 2009 0 komentar

Menunggu

Hatimu memang telah tertutup tanpa ada celah.
Biarlah kutunggu hingga datang sepasang jenuh dan lelah.

Kuyakin suatu saat pasti akan terbukakan.
Seperti jendela, merindukan datangnya semilir hening udara pagi...

Sampai kapan kau harus tersembunyi?
Bintang saja akhirnya muncul, setelah mendung meraba sang malam.
Sampai haruskah kutodong siang hanya untukmu merasa senang?

***
Selalu, sinar tenar yang terus kau cari!
Padahal malam buatmu merenung.
Tapi kau persetankan juga nasihatku ini.
Hingga kau marah dan tak lagi ramah.

Telah bosan kupintakan berulangkali kata maaf!
Toh, kau tetap saja keras kepala, kaku serupa huruf Alif.

Mengertilah, nasihatku tak akan menyesatkanmu...
Layaknya seorang ibu menyeramahi anaknya untuk tidak bermain hujan.
Kau tau?Karna hujan hanya akan membuatnya menggigil kedinginan.

Akhirnya aku hanya bisa menunggu.
Menunggu, hingga kau 'mau' kuganggu.

(Jakarta, 09/09/09)
Selasa, 08 September 2009 0 komentar

Daytime Promise

Ingatkah dirimu, bahwa janji kita terlanjur tergantung tinggi dilangit-langit rumah impian yang kita bangunkan dari materi-materi keyakinan?!
Ya....lalu kita sepakati untuk memanjat dan menggapainya.

Kau payahkan beribu-ribu anak tangga langkahanmu, sedang aku sedikit berbuat curang dengan galah bambu yang kusambungkan tali disimpul mati.
Masihkah kau mengingatnya?

Namun semuanya belumlah terkena.
Hingga kau tergelincir dan hampir terjatuh tak kuasa meraihnya.
Masihkah kau mengingatnya?

Oh, janji itu kini masih melayang layangan diantara handphone kita...
Handphone yang siang itu hanya aku getarkan, takut mengganggu keintiman pembicaraan.
Namun ternyata tetap kuangkat juga, karena kamu terus saja memanggilnya.


Tadinya aku pikir hanya sekedar menyapa biasa, hingga akhirnya tersimpul janji diantara kita.
Masihkah kau mengingatnya?

Harus kau mengingatnya, paling tidak ; pesta rakyat momentumnya.
..
Jika mungkin khawatir akan terlupa, baiklah aku kirimkan pesan singkat saja ke nomermu.
Sehingga bisa kau baca kapan saja, dimana saja.
Bahwa kita pernah berjanji.
Janji yang tersambung diantara handphone kita, siang itu.

(Jakarta 2009, siang didepan Menara Masjid Al-Hikmah)
Senin, 07 September 2009 3 komentar

Terima[lah] Kasih

Menjalin kasih berbeda saat menonton sinetron.
Disini selalu ada perubahan, tiada pernah monoton.

Menjalin kasih, berbeda ketika menyeruput cappucino dimalam hari.
Kasih tak akan habis, menyisa dibibir cangkir.

Menjalin kasih berbeda rupa menatap sunset menjelang sore.
Kasih tetap saja semburat, tak akan tenggelam.

Menjalin kasih juga bukan sama menyantap Pizza dengan lahapnya.
Kasih tak suka terburu, berjalan hening tertahap.

Oh kasih...masihkah kau ditempat itu?
Bersemayam diantara lilin dan vas bunga.
Basah terciprat semprotan parfum dari Paris.
Rasa nervous saat saling menatap didepan menu siap santap.
Atau nyayian syahdu dari rindu yang menggebu.

Kabarkanlah, kabarkan bahwa kau tak hanya sekedar datang untuk mampir sejenak.
Namun juga mewujud, menemani jiwa yang ganjil.

Sampai kelak, sampai waktu yang mutlak.
Saat tiada jarak, yang selalu memaksa menawarkan berkali-kali cawan berisikan arak.

(Jakarta. Ramadhan 16, 1430 H)
0 komentar

Kamar Hilang


Menyalakan lampu pojok meremangi gelap kamarku.
Kamar yang penuh dengan gambar, juga bendera yang tak terkibar.
Kamar itu semestinya tak sendiri. Lagi.

Kehidupkan musik pada sebuah radio tape model lawas, sekedar mengusir hawa sunyi, tentunya.
Tepatnya berharap dapat menghibur. Ya, aku hampir lelah mencari hiburan yang telah lama hilang.

Ah...aku terbaring lagi pada dinding tubuhmu...
Untuk sekedar mengingat perjalanan seru ingatan-ingatan masa lalu. Bermain gurau, itu saja!

Hohoho...ternyata aku tak kuasa...
Sayangnya aku belumlah bisa...

Sampai kinipun aku selalu menyimpan tanya (?)
Dimanakah aktifitas nakal itu kini?

Seolah, menguap bagaikan asap saja...

(Jakarta, pada kamar langit hitam | 7/09/09)
Kamis, 27 Agustus 2009 0 komentar

Dendam; Aku sedang sensitif.....

Menanti angin segar datang merangkul
Jenuh dengan alunan nada kehidupan monoton
Mengapa kau tak bisa pahami segala?
Apakah nanti, sampai hati ini menciut?
Aku sedang sensitif.....
Muncul kesadaran yang kurasa telat
Setelah waktu terpaku untuk yang lain
Cukup sudah harus diakhiri
Sebelum penyesalan semakin saja menggunung
Aku sedang sensitif.....

Jauh disana ada seberkas cahaya
Walau hanya sinar yang sangat mungil. Remang.
Tak apalah!, biar begitu buatku melihat
....menatap kebahagiaan, senyuman, keceriaan dan kasih sayang
Aku sedang sensitif.....

Berkutat menahan, ternyata telah marah sudah
iya...iya..., sudahlah aku menyerah
Tak ada cerita buatmu mengalah
kembali ke titik balik, namun aku belumlah kalah
Aku sedang sensitif.....

Maaf, dendamku akan berkata kaulah teriknya siang
Kebencianku tentu bergumam, hujan deras tak lain kau
Traumakupun telah mencatat, angin badai dibalik senyummu
dan maaf!, ragaku tak sudi lagi berjalan merunduk didepanmu
Aku sedang sensitif padamu, Hedon!!*


* Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya 1x, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."
Diambil dari sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme
 
;