Minggu, 04 Maret 2012 0 komentar

Memburu Ilmu

 

wahai diri yang jahil,
bergegaslah dalam memungut ilmu.
sebab,
para ulama dan guru tak bisa terus menunggu.
sementara ajal terus membidik diantara kau dan beliau...

wahai diri yang bodoh,
segeralah kau serap pelajaran dari para gurumu.
sebab,
ilmu-ilmu itu tak akan lama bertahan—segera diangkat tinggi meninggalkan kalian dimuka bumi.

hmmm....masihkah kau rapuhkan detik menjadi dedaunan yang kering,
lalu berserakan menjelma sampah-sampah hidup?

ah, masihkah kau gulitakan menit menjadi malam tanpa bebintang,
seolah pilih membuta menyusuri jejak zaman?

atau,
masihkah kau telanjangi waktumu dari kemejanya yang rapi,
seakan menjadi insan yang tak beradab?

cepat!
burulah ilmu,
seperti saat kau kejar kijang liar,
dengan anak-anak panahmu!

Jogja, 03 Maret 2012

Sabtu, 18 Februari 2012 0 komentar

Obrolan Hangat di Teras Masjid (Sahabat Yang Hebat)


 

Status Facebookku:
Bercakap-cakap bareng seorang sahabat atau kawan dekat, pasti tiada cukup hanya meluangkan setengah malam saja. Kerinduan akan selalu menjelma selimut hangat atas suhu malam yang makin gigil. Tak rela rasanya memotong cerita, lalu bertaburan menjadi sendiri-sendiri lagi…

Ah, sunguh syahdu rasanya bisa duduk bareng para sahabat yang saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Walau beralaskan lantai keramik yang dingin, ruang tanpa sekat diteras muka masjid, lalu disempurnakan dengan hadirnya hujan gerimis rintik-rintik sehingga malam itu benar-benar terasa sangat gigil. Namun agaknya semua itu bukan menjadi alasan bagi kami untuk mengurungkan bertemu dan bercanda ria bersama…

Tak lama, kami mulai duduk sila melingkar, sejurus kemudian ilmu dan pengalaman setelah beberapa minggu tak jumpa mulai ditumpahkan dengan bumbu cerita-cerita yang gokil, seru dan menantang.  Ada getar dalam dada yang goncangannya berdegup --semakin larut malam, justru makin kencang; ketika beban yang kita pikul ternyata juga dirasakan oleh meraka. Menjadikan aliran darahku beredar kencang mengalir ke setiap lini tubuh ini, hingga gairah mengobrol semakin menjadi-jadi.

Aku tatap matamu, sobat, ia kelihatan berbinar, lalu katamu: “Tak pernah ada kantuk untuk saling berbagi pengalaman-pengalaman hidup, sobat…
Kali ini, kita ngobrol sampai pagi!”, teman yang lain menyahut.
Kalau perlu kita nginep di masjid ini!”, tambahnya.
Hahaha, tawa kami pecah bersama…

Dalam hati aku bergumam, apa dia ngga capek. Aku tau persis, dari tadi pagi hingga malam ini, kau belum juga pulang kerumah. Sibuk bekerja lalu mendatangi majlis-majlis ilmu yang kita sepakati bahwa itu sangat penting dalam hidup beragama!

Aku jadi sangat malu, ketika aku bercermin dan melihat diriku sendiri, mengapa aku tak bisa sepertimu dalam memaksimalkan anugerah yang telah diberikan Tuhan untuk semangat beribadah? Pasalnya kesehatanku sangat tercukupi gizinya, pekerjaanku jauh lebih santai daripada kamu, keluargaku yang “utuh”, lingkungan tempat tinggalku yang nyaman namun dalam mensyukuri hidup, ternyata sangat jauh sekali aku dibandingkan kamu, sobat…

Inikah hebatnya mempunyai sahabat yang bisa saling mengingatkan dalam beribadah? Sehingga ketika aku sedang malas dan futur, lalu ribuan sms motivasi diberondongkan ke nomor hpku??
Inikah rasanya punya temen yang ketika dicurhati bisa saling menasehati dengan kisah-kisah teladan dari para generasi terbaik manusia yang pernah tinggal didunia ini?? Bahwa kita dalam hidup ini hendaknya selalu mencontoh manusia-manusia suci itu. Karena tindakan dan perilaku mereka semata-mata didasari oleh rasa takut kepada Tuhan, katamu…

Sungguh perjumpaan yang mewah karena tema obrolan begitu mulia: saling mengingatkan untuk semangat beribadah.
Sungguh, kita bergadang bukan untuk bermaksiat, karena ayat-ayat begitu sering meloncat dari mulut para sahabat-sahabatku yang hebat ini.

Aih, benar juga, kali ini kita hampir lupa diri, terlalu seru kami menumpahkan rasa rindu yang terus menggebu ini. Disisi lali, waktu terasa cepat berlari tak mau kompromi. Kami lebih takut, jika kami justru membunuhi sang subuh.

Akhirnya dengan sangat berat, kita jedakan pertemuan malam itu. Kembali bertabur sendiri-sendiri lagi. Ada kecewa yang hadir, lalu cepat-cepat aku sadar dan berujar: Insya Allah kita jumpa lagi!
Rabu, 01 Februari 2012 0 komentar

tiba-tiba, aku...



Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….” 
(QS. An-Nisa' : 78)

aku berbekal apa,
jika tiba-tiba aku dipanggil
lalu aku hanya mampu menggigil?

aku akan menjawab apa,
jika tiba-tiba aku menjadi gagap
dalam ruang yang sangat pengap itu?

aku mengaku apa,
jika tiba-tiba aku hanya bisa diam terpaku?

aduh… tiba-tiba aku ingat mati.
aku takut sekali.
tingkahku terlalu keji.
dunia ini melilit menguasai diri…

...lalu, tiba-tiba aku ingat,
jika Tuhan menerima segala taubat.

 Aku ingin kembali bersujud,
sebelum hari pemutus kelezatan itu datang menyambut.
Selasa, 17 Januari 2012 0 komentar

HUJAN INSPIRASI (Puisi Yang Tak Terdeteksi)

Hujan selalu saja seru untuk didefinisikan.
Tiap jiwa akan punya kenangan tersendiri tentangnya.

: Kau yang hari itu sedang sedih, barangkali akan menganggap hujan sebagai air matamu yang menderas; meluap luber dari sumber mataair matamu,  mengalir syahdu melintasi kantung mata yang sembab, turun mengaliri pipimu yang agak cubby, melincip kearah dagumu yang bak buah manggis terbelah dua kemudian menetes ke bumi. Hiks...hiks...

: Kau yang sedang rindu, besar kemungkinan akan berusaha ‘bercerita’ dari hatikehati dengannya; mendekat  kearah jendela, menyibak tirainya, berpegangan tralis besinya....lalu  menikmati hujan sambil kau tumpahkan isi hatimu bersamaan air yang mengalir diantara dedaunan- reranting -batang tanaman hias rumahmu. Rindu yang telah tumpah, tentu saja membuatmu lebih enakan. 

: Sedang kau yang waktu itu pas marah-marah, pasti ceritanya akan berbeda; hujan tak ubahnya serupa serombongan pasukan jarum (yang sangat lancip) yang sepakat untuk menusuki jantungmu. Lalu petir yang meledak-ledak itu, otomatis akan mewakili perasaanmu yang panas membara: “DORR!!”

: Dan kamu yang sedang galau, tentu memiliki kesan tersendiri tentang hujan; “Wahai hujan, rapatkanlah perahu kertas cintaku ini ke dermaga hatinya dengan perlahan-lahan. Seperti  lirik lagunya Kotak: Pelan-pelan Saja...

Hehe..., hujan sungguh ajaib
: inspirasi bagi musisi, penyuka dunia fotografi, tukang seni juga penyair-penyair amatir yang masih malu-malu menyembunyikan puisinya dalam catatan buku diary pribadinya. 
#Seperti catatan ini! Ya, akulah penyair amatir itu ;p


Jogja, 16/01/12
Sabtu, 24 Desember 2011 0 komentar

Ibu 3 Makna

Ibu dan aku
Ibu; kata-kata yang terucap darimu,
menjadi do'a paling mustajab sejagad raya.

Ibu; cintamu yang tak pernah surut,
menepis carut marut di dalam hati.

Ibu; restu yang kau tebar, 
membukakan pintu gerbang senyum semesta.

Jogja, 22 Des 2011
Senin, 19 Desember 2011 0 komentar

Birahi Mata Lelaki

Bila makanan terbungkus rapat disebut higienis, 
maka perempuan berjilbab rapi akan menjaga diri dari  birahi mata lelaki.

Bila buku yang tersegel plastik menjaga isi agar selalu bersih,
wangi khas kertas, halaman per halaman terjaga,
maka buku yang terbuka adalah kumpulan kertas yang lecek, 
terjamah jamaah jemari, robek, penuh noda lalu pembeli tak jadi beli.

Hai perempuan yang cantik!

Terusiklah pada pandangan kami yang liar melirik,

merisilah pada kagum kami yang penuh nafsu,

dan,

meresahlah pada pujian kami yang melenakan.

Karena kecantikanmu bisa jadi akan mencabik-cabik jiwamu
: semakin haus pada ke-sexy-an, kemontokan, kesemokan,
bahkan ketelanjangan yang telah dianggap biasa oleh masyarakat biadab ini: cantik adalah jika kau mau berpakaian mini dan menampakkan aurotmu.

Teramat sayang jika kecantikanmu justru malah menjadi bencana bagimu,
maka simpanlah ia dengan kain sutra yang halus lagi mewangi,
yang memancarkan surya surga di tiap helainya.
Lalu, ketakjupanlah yang akan sampai ke jiwa kami.

Jogja, 19-12-2011
gambar
Selasa, 29 November 2011 0 komentar

Callia, Kau Semakin Cantik

Callia, setiap malam aku selalu mencarimu dalam sebuah
gundah. Sampai kapan aku terus bersembunyi dari rasa
bersalah ini: dosa cinta kita.
Geregetan, ingin sekali kutaklukkan bayang-bayang ketakutan
yang mengerdilkan hidup.

Hey, sudahkah kau baca status facebookku malam kemarin?
Ah, percuma!!
Kita kan belum berteman di jejaring sosial itu?
Dan mungkin tak akan pernah ku 'klik' account fbmu untuk 'request friendship'
sampai benar-benar Tuhan mempertemukan kita entah dimana dan kapan itu terjadi.

Walau kadang-kadang aku iseng juga mengintip curhatan-curhatan yang kau
post-kan dalam statusmu...


Callia, foto profile-mu terlihat berbeda sekali,
kini kau terlihat tampak kurusan dengan tulang wajah yang agak tirus.
Aku ingat sekali, dulu kau sangat bangga dengan pipi parasmu
yang chubby mengemaskan itu:

"Yang, pipimu dah mirip bakpau bangett seeh..."
"Ihhh, apaan seeh, tapikan lucuuuu tauuuuuuuu...
weeeeeekkkkk!"

Hehehe...aku jadi ingat masa itu lagi,
ketika kau mulai manja dengan tingkah yang aneh.

Tapi yang benar-benar membuatku takjub adalah kini kau terlihat sering pakai
jilbab dalam setiap pose di kamera.
Bukankah dulu kau paling alergi melihat perempuan memakai jilbab?

"Buat apa Tuhan menciptakan rambut jika hanya ditutup.
Rambut adalah mahkota bagi wanita, jadi harus diperlihatkan kepada setiap orang!"
katamu sangat tegas

Ya, setiap minggu kau selalu mengajakku kesalon buat ganti model rambut.
Rebondinglah, diblowlah, dicreambathlah, dicatoklah, dismoothlah.
Ah, aku jadi sangat hafal istilah-istilah dalam dunia persalonan, kan?!

"Yang, anter aku ke salon lagi yuk, aku mau ganti model rambut, nich!"
"Model kayak gini dah cupu, kuno..."

Oh, syukurlah jika kau mau berubah.
Semoga bukan cuma rambut saja yang dijilbabi, namun juga hatimu.
Itu yang terpenting...


Jogja, 29 Nov 2011

gambar
 
;