Rabu, 19 Januari 2011 0 komentar

Callia, Dosa Cintaku


Lagu-lagu itu,
lagi-lagi memekakkan kedua gua telinggaku.
Memaksaku kembali pada masa jadul,
walau aku berikeras tak mau mengunjunginya lagi...

Aku takut akan mengoyak perih hati yang telah mengering (dari dosa cintaku)
Dosa yang mulanya kita pikir serba indah —romantis seperti adegan kemesraan pacaran dalam film-film luar negri— karena kita lakukan atas dasar cinta yang besar dan sukasamasuka.
Lalu kita tiru secara bulat-bulat tontonan itu, hingga kita sering melakukannya. Lagi, dan lagi...

Wajar saja,
saat itu kita masih sama-sama labil, Callia.
Kau masih memakai seragam putih-biru, sedang aku baru persiapan untuk menghadapi ujian kenaikan kelas 3 di salah satu SMA terkemuka di kota Bogor.

Taukah kau,
lagu-lagu itu kini terdengar lagi.
Kali ini terdengar sangat keras. Keras sekali.
Membuatku harus menutup telinga dengan bantal tidur —aku tak ingin mendengarnya lagi.
Ya, lagu dalam kaset yang dulu pernah aku kadokan sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke-15 tahun itu, kini tiba-tiba muncul kembali, Callia.

Kenapa lagu-lagu itu bisa mengudara lagi?
Ah, aku sungguh tak mau mendengarnya,
namun aku juga tak kuasa mematikan atau mengganti tuner radio-tape kekanan ataupun mundur kebelakang.
Lagu itu memaksaku ingin didengar; seolah terhipnotis, akupun khusuk mendengarkan bait demi bait syair lagu itu.
Membangkitkan dosa yang telah aku bunuh perlahan-lahan, dengan belati penyesalanku.

Callia, kekasih yang ditinggal mati nafsuku,
maafkanlah aku...
Aku tak bisa meneruskan kejahatanku —memupuk subur nafsuku atas tubuhmu
: menggebu mencumbu gigir bibirmu, memeluk pinggang rampingmu erat-erat atau membelai rambutmu yang tergerai.
Aku tak bisa lagi...

Sejak peristiwa kecelakaan maut (saat kita ingin pulang sekolah itu), hatiku tertambat ingin bertaubat.
Berton-ton hikmah dengan mudah meresap di sanubari hatiku.
Ternyata, selama itu kita hanya menyakiti Tuhan, Callia (kekasihku)...

Tuhan sayang kita semua, kok!
Buktinya kita masih diberi kesempatan untuk hidup, kan?! Secara logika, kita seharusnya telah mati.
Bukankah saat itu, motor yang telah aku sulap untuk ajang balapan liar itu menabrak truk tronton dengan kecepatan 110 km/jam. Tanpa helm. Lalu kita terguling di tengah jalan dan tersambar kendaraan yang ada dibelakang, sampai kita terseret 50 m kedepan?

Namun, kita sering mengingkari Tuhan dengan perilaku yang kotor, keji, hina, norak!!
Taukah kau, Callia, yang kita lakukan selama itu hanya pantas dilakukan oleh sebangsa hewan. Yang tak punya malu. Tak ada aturan!
Ah, aku ingin sekali membunuh sekali lagi masa lalu kita. Aku benci mengingat itu semua.

Kesadaran imanku seakan tumbuh.
Sebelum penyesalan itu semakin membesar bak bukit, aku harus memutus jembatan kenakalan cinta kita, Callia.
Aku harus meninggalkannmu —atau setidaknya melupakanmu dalam jarak waktu yang tak terbatas,
untuk membuat catatan hidup baru dan tentu saja pada lembaran baru pula, Callia...

Mafkan, aku.
Terkesan aku tak bertanggungjawab atas perbuatan yang kita lakukan berdua.
Seperti egois,
aku ingin meratapi nasib hitamku tanpa kau disisi.
Inilah keputusanku,
kita harus berpisah, Callia....


"...pendengar setia radio ELPAS 103.6 FM yang berbahagia, lagu yang baru saja diputar, direquest oleh Callia untuk kekasihnya. Jangan kemana-mana, karena masih banyak lagu-lagu top hits dalam maupun luar negeri yang akan segera mengudara untuk para pendengar setia semua sampai tenggah malan nanti.."


Jogja, 19 Jan 2011
Jumat, 14 Januari 2011 0 komentar

Sketsa Rindu (Jendela)


Sepi...
aku ingin menyibak tirai syahdumu,
mengintip pesona senyum perempuan lugu, lewat jendela kayu tinggi rumah gundahku.
Penuhnya ruang jiwa dengan segala rasa hampa dalam hidup, bosan juga dijalani setiap manusia.

Aku harap kamu tak lekas sadar, ketika aku menjelma menjadi sebuah alat pengintai —radar, mematamataimu, dengan detail kekaguman yang tumbuh subur padamu.

Lalu getar! Tiba-tiba aku menjadi sangat ketakutan dan malu atas tindakan pengecutku ini.

Ah, ternyata aku mulai suka kamu...

***

Ini memang memalukan. Sebagai seorang laki-laki, ini sungguh T.E.R.L.A.L.U!
Namun, bukankah aku telah berani mengakui kalau aku suka kamu?

Belum cukup, ya? Belum??
Hemm...lain kali akan aku coba yang lebih 'laki-laki' lagi, deh!; menyapamu dengan "Assalamu'alaikum", mungkin,
mengajakmu beli buku baru, mungkin,
mentraktirmu makan bakso, mungkin,
nonton film di bioskop, mungkin,
atau cuma pulang bareng dari tempat kerjamu?

Ih.., kok cuma mungkin, beneran, doong!
Apa? Tolong, katakan sekali lagi, tadi aku kurang jelas mendengarnya: kamu mau aku melakukan semua itu??
Waw, aku sungguh bahagia!

***
Lalu, lama-lama aku mulai risih dan gusar dengan sikapku yang kekanak-kanan ini. Aku mulai memberanikan diri mengungkapkan rasa cinta itu...

Singkat cerita, gayungpun bersambut —walau sesungguhnya aku hampir putus asa menaklukkan hati perempuan lugu itu— kitapun berdua resmi menjadi pasangan kekasih, menikah dan harapan-harapan indah seolah akan segera terjadi.

Telah tertancap pada hati kami, kelak bisa menjalani hidup bersama keramaian anak-anak dan banyak cucu yang lucu-lucu.

Namun harapan, hanyalah sebuah sesuatu yang belum pasti.
Sampai akhirnya, waktu mencabik-cabik cerita cinta kita yang terbangun dari kesetiaan dan impian menarik setiap manusia.

Kaupun tak kuasa menahan kanker otak yang telah lama akrab denganmu.
Kata Dokter Spesialis disana, penyakitmu itu telah akut,
dan aku merasa sangat menyesal-marah-jengkel tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membesarkan jiwamu: melanjutkan hidupmu —mewujudkan harapan-harapan indah saat pernikahan kita dulu.

Lalu, dengan sedikit memaksa, tiba-tiba kau ingin dipeluk erat di ICU rumah sakit itu,
membasahi bahuku dengan linangan air mata dan isak sesak tangismu, tangis kita, tangis keluarga dan siapa saja yang melihatnya.

Seolah ingin mengatakan sesuatu,
sampai akhirnya kau benar-benar menghela nafas panjangmu.

Aku rindu kamu, sayang...


***

Gila!! Ya, aku memang tergila-gila pada memori settingan cerita Tuhan, kala itu.
Kini kau telah tiada, mana bisa kita mengulanginya lagi?

Apa aku harus mengutuk kondisi saat ini?
Oh, tentu tidak. Aku harus terus belajar berdamai dengan kenyataan, bukan?!

Aku hanya ingin me-reborn rasa itu saja.
Saat ini aku benar-benar merindukan kamu, sayang!

***

Aku coba membuka jendela itu lagi,
berharap terjadi hal yang sama seperti dulu,

: tapi,
kamu,
tetap,
saja,
tak,
ada...



Jogja, 14 Jan 2011
gambar
Rabu, 12 Januari 2011 0 komentar

Malam dan Kesadaran Waktu


aku rasakan angin yang bergerak melamban; membusungkan dada malam, menerbangkannya lalu menyujudkan dipunggung lengang jalanan.
sesekali kendaraan bermesin melintas, membumbungkan asap knalpotnya, mewarnai langit menjadi putih keabu-abuan.

digigir trotoar yang dicat hitam-putih seperti Zebra itu, aku duduk bersimpuh memandang bulan. Bulanpun acuh takbergubris, khusuk bertasbih —tak mau diganggu. Dan seperti biasa; para bintang biasa iseng menggodanya, mengerlipkan kilaunya, numun tak membuat bulan beranjak gusar dari aktifitas sucinya.

jelas tak ada nyanyian jalanan malam itu, para pengamen telah nyandarkan gitar dan ketipung dikamarnya: bersiap tidur, karena besok pagi mungkin beraksi di Stasiun Kota atau mungkin tetap mencari nafkah dari warung soto, bakso dan warung ramesan. Sesekali waktu malah mungkin dari bus ke bus (lagi).
yang ada hanya candaan kucing —entah itu bercanda atau foreplay ingin kawin.
ah, malam ini nikmat sekali menyeruput teh poci gula batu dari cawan gelas tanah liat bikinan mBok Djoyo. Ku seruput sedikit demi sedikit, mengunggu agak dinginan.

...cukup lama juga, aku terbuai keindahan langit malam menjelang pagi buta itu. Lalu, kurasakan badanku mulai kedinginan. Cukup hari ini, aku harus kembali pulang, menghelai nafas panjang —melintasi esok hari.

timbul kesadaranku akan sebuah waktu. Ternyata waktu itu sama persis, namun sering dibeda-bedakan. Bukan berarti hidup ini monoton, hanya menyikapinya saja yang lain.

Bukankah waktu itu setiap per-jam-nya masih dibangun dari material detik dan menit? Jam dua malam hari itu, aku menyeruput teh poci, mungkin jam dua malam lain hari, aku masih asik browsing di warnet, atau menonton film box office di tv kesayanganku(-Anda) , atau malah sudah terlelap. Simple!

ya, hidup ini hanya bagaimana cara kita menyikapi dan melaluinya. Kaya ataupun papa hanya status di tengah masyarakat saja.
: karena kebahagiaan itu, akan bergemuruh pada dada yang lapang, melepaskan rasa iri, dengki, marah dan sekutunya. Percayalah...
gambar


(cerita fiktif imajinasi sepi. Jogja, 11/01/2011)
Jumat, 07 Januari 2011 0 komentar
Kehidupan itu akan menghidupkan jiwa, jika hidup ini menyadari akan sebuah kematian.
Kematian sesungguhnya tak lain adalah akhir dari kehidupan, namun bukan perjalanan abadi: jiwa.
Karena jiwa tak pernah bisa mati, walau kematian itu sendiri jiwa dari kehidupan ini.

...jika hati menyadari hal mati, dia akan merasa gigil: mengingat maksiat yang sangat pekat.
...jika nafsu memang tercipta kuat, maka hanya iman yang membuatnya bertahan.

kau senyum?
kau masih mengira ini canda?
kau tak sependapat?
kau ingin menyangkal?
ya..ya..ya..,
pulanglah dulu, mungkin kau capek.
lalu cuci muka,
: karena sebentar lagi, kau harus mencari hatimu yang hilang.
gambar
Selasa, 21 Desember 2010 0 komentar

Dunia bukan taman bermanja-manja #1


Hidup Adalah Perbaikan-Perbaikan Yang Tak Bisa Sempurna.

Malas Melakukan Perbaikan,

Membuat Kehancuran Hidup Semakin Sempurna.

gambar
Sabtu, 11 Desember 2010 0 komentar

Abdi Pinokio

Bohong.
Tak pernah kusangka kau mengucap dusta dengan ayat suci sebagai penguat.
Kudengar bibirmu sering menyebut nama Tuhan, ternyata kau serupa setan. Tak ada beda dengan preman jalanan.
Senyummu lebar, bergegas menebar ranjau-ranjau yang melumpuhkan —melenakan kami, lalu terkekeh seperti perampok berhasil membobol uang sekarung di bank asing.
Kata-katamu terlalu manis, yang akhirnya bikin kami diabetes kepercayaan.

Sumpah serapah: Ingin kurobek topeng licikmu itu.
Kebohonganmu mengunung besar yang akan terus terlihat kami (setidaknya setiap pagi. Saat cuaca, udara, embun dan pikiran kami menjernih kembali, kami selalu ingat).
Aku dan kami tak akan insomnia, sampai ruh tiada.

Kelak, kau akan ditimbun hidup-hidup bersama kata-kata manis bohongmu; huruf per huruf, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf sampai nafasmu sesak —sesesak dada kami tersembur bisa tipu muslihatmu.
Kau abdi pem.bo.hong.


-Adji Nugroho-
Jogja, 10 Desember 2010
gambar
Senin, 08 November 2010 0 komentar

Ibu ; Seperti Pinisi yang hendak berlayar, do'amu adalah bahan bakar


Disini (sini) aku menatap (tatap) gambarmu dalam bingkai kotak kayumu.

Disini (sini) aku berharap (harap) kau s'lalu memanjatkan do'a untukku.

Kepada pagi,
aku bersaksi...

Kepada siang,
aku berjuang...

Kepada malam,
akan kugenggam...

: semua janji-janji padamu, Ibu!



-Adji Nugroho-
(Puisi dan lagu | Yogyakarta, 18 November 2009)
gambar
 
;